PENGORGANISASIAN BIDANG KEILMUAN PADA KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM DALAM PERSPEKTIF PEMIKIRAN IBNU KHALDUN

Oleh: Yulizal Yunus[1]

Abstraks

Ibnu Khaldun dengan pengalaman besarnya dalam belajar dan mengadakan perjalanan serta pengalaman politik praktis, ia tampil sebagai tokoh dunia, dikenal sebagai seorang Bapak sosiolog, Bapak ekonomi, sejarawan, sastrawan, filosuf, sufi, ahli hukum, politisi serta dikenal sebagai pakar pendidikan Islam. Kepakarannya yang piawai ini terbaca dalam karya intelektualnya yang legendaris muqaddimahمقدمة”. Khusus konsep pemikirannya dalam bidang pendidikan Islam amat cemerlang dan memberikan kontribusi besar dalam mendinamisasi sistim pendidikan Islam. Substansi pemikirannya dalam pengembangan sistim pendidikan terlihat dalam komponen visi-misi, tujuan, pendidik, peserta didik, kurikulum, proses belajar mengajar sampai kepada komponen pengelolaan dan sarana prasarana. Khusus dalam bidang kurikulum ia menawarkan pengorganisasian bidang keilmuan Islam yang wujudnya dalam bentuk klassifikasi kelompok dan materi ilmu pengetahuan (knowledge). Pengorganisasian (penyusunanan) keilmuan secara hirarchis Ibnu Khaldun membagi tiga kelompok science/ knowledge yakni: a. al-lisani, b. al-naqli, c. al-aqli. Wujud ketiga bentuk ilmu itu yakni: pertama ilmu l-lisani: (a) al-adab (sastra) yakni puisi dan prosa, (b) bahasa (sharaf/ morpologi, nahu/ sintaxis); kedua ilmu l-naqli: (a) ulum al-Qur’an, (b) ulum al-Hadis, (c) fiqh/ usul fiqhi, (d) ilmu kalam, (e) ilmu tasauf, (f) ilmu ta’bir rukyah; Ketiga  ilmu l-‘aqli: (a) ilmu logika (manthiq), (b) ilmu fisika, (c) ilmu metafisika (ulum ilahiyah), (d) ilmu matematik. Pengelompokan pengetahuan Ibnu Khaldun ini memberikan citra pendidikan Islam kukuh bersumber kepada al-Qur’an dan Hadis.

Keywords: Pendidikan, Knowledge Islam dan Ibnu Khaldun

 

 

  1. I.             PENDAHULUAN

Ibnu Khaldun dikenal dunia sebagai seorang Bapak sosiolog, sejarawan, sastrawan, ekonom, politikus, pakar hukum dan pakar pendidikan Islam. Kepakarannya banyak dipengaruhi pengalaman lingkungan kehidupannya, mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan (guru dan ilmu yang diterima), lingkungan pergaulan, masyarakat dan pemerintah (di Tunis, Al-Jaza’ir, Maroko, Sepanyol) termasuk lingkungan ulama, sastrawan dan birokrat kerajaan di samping ia sendiri pernah sebagai penguasa kerajaan pada masanya. Selain itu ia juga mempunyai potensi cara berfikir cemerlang, cerdas dan piawai, suka belajar dan memiliki kerangka berfikir positif thinking  denan pengalaman birokrat. Potensinya itu mendapat ruang gerak, motivasi dan dukungan baik dari pengalaman perjalan hidupnya mencari ilmu pengetahuan, potensi ilmu pengetahuan yang dimiliki, jam terbang dan pengalamannya sejak dari kecil sampai menjadi penguasa kerajaan yang mengemban tanggung jawab umat, termasuk tanggung jawab pendidikan bahkan ia sendiri mempunyai perhatian besar terhadap bidang ilmu.

Banyak para pakar menulis kebesaran Ibnu Khaldun. Di antaranya Rosenthal menilai, karya Ibn Khaldun “the Muqaddimah an Introduction to History”. Spengler menulis buku “Economic Thought of Islam: Ibn Khaldun”. Boulakia menulis Ibn Khaldun: A Fourteenth Century Economist. Ahmad Ali menulis Economics of Ibn Khaldun-A Selection. Ibn al Sabil menulis Ishtirakiyah fi l-Islam. Abdul Qadir menulis Economic Views of Ibn Khaldun. Rifa’at menulis menulis Ibn Khaldun’s Views on Economics. Somogyi menulis buku Economic Theory in the Classical Arabic Literature. Al- Thahawi menulis al-iqtisad al-islami madhhaban wa nizaman wa dirasah muqaranah (Islamic Economics-a School of Thought and a System, a Comparative Study). T.B. Irving menulis Ibn Khaldun on Agriculture. Abdul Sattar menulis buku Ibn Khaldun’s Contribution to Economic Thought in: Contemporary Aspects of Economic and Social Thingking in Islam (Sutisna, 2009).

Selain itu banyak pemikiran Ibnu Khaldun diadopsi bahkan dijadikan materi pelajaran dalam berbagai rumpun keilmuan: ekonomi, sosial, sejarah, sastra, politik, pendidikan. Ramayulis, dkk. (2009) guru besar filsafat pendidikan Islam di IAIN Imam Bonjol memaparkan pemikiran Ibnu Khadun dalam bidang pendidikan dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, Tela’ah Sistim Pendidikan, Pemikiran dan Para Tokohnya. Demikian pula tidak sedikit penelitian ilmiah baik oleh para peneliti, maupun oleh mahasiswa dalam menulis karya ilmiah dalam proses dan tugas akhir penyelesaian studinya dalam berbagai strata di perguruan tinggi di berbagai belahan dunia. Sutiana (2009) mencatat juga antara lain dalam bidang ekonomi, penelitian Doktor Ezzat dengan topik Production, Distribution and Exchange in Khaldun’s Writing;  Nash’at menulis “al-Fikru l-iqtisad fi muqaddimah Ibn Khaldun (Economic Though in the Prolegomena of Ibn Khaldun). Semuanya itu menunjukkan kebesaran dan kepeloporan Ibnu Khaldun sebagai intelektual Islam terkemuka dalam berbagai bidang ilmu: ekonomi, social, sejarah, sastra, politik dan pendidikan.

Makalah ini yang merupakan tugas proses studi dalam mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam yang diasuh Prof. Ramayulis memilih topik spesifik “Pengorganisasian Bidang Keilmuan pada Kurikulum Pendidikan Islam dalam Perspektif Pemikiran Ibnu Khaldun” yang jelas-jelas penulis mengambil manfaat dari tulisan ilmiah berbagai pakar yang telah dahulu melakukan penelitian dan menulis tentang Ibnu Khaldun ini termasuk pemikiran Ramayulis dalam bukunya yang disebut tadi. Penulis menghargai pemikiran mereka kiranya menjadi amal shaleh mereka di sisi Allah swt., karena betapa besar jasa para penulis ini membuka inspirasi dan pemikiran penulis-penulis generasi berikutnya dalam memperkaya makna kehidupan dan penguatan ilmu pengetahuan berkenaan dengan kajian tokoh Ibnu Khaldun ini.

 

  1. II.          MASALAH

Dari latar pemikiran pemikiran tadi, penulis dalam makalah ini merumuskan masalah yang dibahas dalam bentuk dua pertanyaan penting sbb.:

  1. Bagaima perjalanan hidup Ibnu Khaldun ?
  2. Bagimana konsep pendidikan Ibnu Khaldun dan pengorganisasian knowledge dalam sistim Kurikulum ?

 

  1. III.       PEMBAHASAN

 

  1. A.    Perjalanan kehidupan Ibnu Khaldum

Ibnu Khaldun hidup pada masa peradaban Islam berada di ambang degradasi dan disintegrasi, pasca keruntuhan Khalifah Abbasiyah dan Bagdad serta wilayah sekitarnya dijarah, dibakar dan dihancurkannya Baghdad dan wilayah disekitarnya oleh bangsa Mongol. Tujuh puluhan tahun kemudian lahir Ibnu Khaldun. Nama lengkapnya ialah Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin al-Hasan bin Muhammad bin Jabir bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Khaldun (Muslih, 1981:63). Nama lain Abu Zaid Abdurrahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami (أبو زيد عبد الرحمن بن محمد بن خلدون الحضرمي). Dalam catatan lain namanya juga disebut Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad Ibn Khaldun Al-Hadrami Al-Ishbili. Ia lahir di Tunisia, 27 Mei 1332/ 732 H dan wafat di Kairo Mesir, 25 Ramadan 808 H./19 Maret 1406 M. Ia disebut-sebut juga keturunan Arab Yaman sahabat Rasulullah saw. bernama Wail bin Hujr dari Kerajaan Kindah.

Sejak kecil Ibnu Khaldun sudah hidup dalam masyarakat rangking kelas atas dan pernah menjadi pembesar kerajaan. Nenek moyang Ibnu Khaldun berasal dari Arab Selatan yang sudah mempunyai peradaban besar, yakni Hadramaut (Yaman). Mereka bermigrasi ke Seville (Spanyol) pada abad ke-8 M, setelah semenanjung itu ditaklukan Islam. Salah seorang moyangnya bernama Khalid bin Usman ibnu Hani bin al-Khaththab bin Karib bin Ma’ad Yakrab bin al-Harits bin Wail bin Hajar dikenal sebagai Khaldun (baca Abdurrahman 1951:3). Ketika Spanyol dikuasai penguasa Kristen, keluarga Ibnu Khaldun hijrah ke Maroko, terus ke Tunisia dan menetap di sana pada komplek dinasti Hafsiah. Keluarga Ibnu Khaldun dihormati pihak istana. Di sana ia belajar tekun. Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri. Ia memulai belajar sejak kecil dengan membaca dan menghafal al-Quran serta menguasai ilmu tajwid. Ia tekun belajar agama, juga fisika dan matematika dari ulama-ulama Andalusia yang hijrah ke Tunisia. Hasil belajarnya dinyatakan berprestasi dan punya nilai yang memuaskan pada setiap bidang studi. Sayang masa belajarnya terhenti tahun 749 H, karena ketika ia berusia 17 tahun, tanah kelahirannya terjangkit endemik wabah penyakit pes yang memakan ribuan korban jiwa. Disebabkan peristiwa black death itu juga, para ulama dan penguasa hijrah ke Maghrib al-Aqsha (Maroko).

Tahun 1353 Ibnu Khaldun pernah diangkat menjadi sekretaris Sultan Al-Fadl dari Dinasti Hafs di Tunisia. Dua tahun kemudian, ia berhenti karena penguasa yang didukungnya itu kalah dalam sebuah pertempuran, lalu hijrah ke Baskarah, sebuah kota di Maghrib Tengah (Aljazair). Ia bertemu dengan Sultan Abu Anam, penguasa Bani Marin dari Fez, Maroko yang tengah berada di Maghrib Tengah. Pertemuannya mengesankan lau ia diangkat menjadi anggota majelis ilmu pengetahuan dan setahun kemudian menjadi sekretaris Sultan. Ia menduduki jabatan itu selama dua kali dan sempat pula dipenjara. Era Wazir Umar bin Abdillah, Ibnu Khaldun meninggalkan negeri itu karena tidak sesuai dengan Wazir.

Ramayulis (2009:281) menulis, tahun 1362 Ibn Khaldun menyeberang (kembali ke kampung leluhurnya) Spanyol dan bekerja pada raja Granada. Di Granada, ia menjadi utusan raja untuk. berunding dengan Pedro (raja Granada) dan raja Castila di Sevilla. Karena kecakapannya yang luar biasa, ia ditawari pula bekerja oleh penguasa Kristen saat itu. Sebagai imbalannya, tanah-tanah bekas milik keluarganya dikembalikan kepadanya. Akan tetapi, dari tawaran-tawaran yang ada, ia akhirnya memilih tawaran untuk berkerja sama dengan raja Granada. Di cerita lain Sultan Bani Ahmar menyambut kedatangannya dan mempercayainya sebagai duta negar di Castilla, sebuah kerajaan Kristen yang berpusat di Seville. Tugasnya dijalankan dengan baik dan sukses. Namun tak lama kemudian, hubungannya dengan Sultan kemudian retak.

Di era Bani Hafs, Abu Abdillah Muhammad mengangkat Ibnu Khaldun menjadi perdana menteri sekaligus, khatib dan guru di Bijayah. Setahun kemudian, Bijayah jatuh ke tangan Sultan Abul Abbas Ahmad, gubernur Qasanthinah (sebuah kota di Aljazair), lalu Ibnu Khaldun hijrah ke Baskarah. Ia kemudian berkirim surat kepada Abu Hammu, sultan Tilmisan dari Bani Abdil Wad yang isinya akan memberi dukungan. Tawaran itu disambut hangat Sultan dan kemudian memberinya jabatan penting. Iming-iming jabatan itu ditolak Ibnu Khaldun, karena akan melanjutkan studinya secara otodidak. Ia bersedia berkampanye untuk mendukung Abu Hammu. Sikap politiknya berubah, tatkala Abu Hammu diusir Sultan Abdul Aziz. Ibnu Khaldun kemudian berpihak kepada Abdul Aziz dan tinggal di Baskarah. Tak lama kemudian, Tilmisan kembali direbut Abu Hammu. Ia lalu menyelamatkan diri ke Fez, Maroko pada 774. Saat Fez jatuh ke tangan Sultan Abul Abbas Ahmad, ia kembali pergi ke Granada buat yang kedua kalinya. Namun, penguasa Granada tak menerimanya lagi. Lalu ia balik lagi ke Tilmisan. Meski telah dikhianati, namun Abu Hammu menerima kehadiran Ibnu Khaldun. Sejak saat itulah, Ibnu Khaldun memutuskan untuk tak  berpolitik praktis lagi.

Kecewa dengan politik praktis dan duduk sebagai pejabat di birokrat Ibnu Khaldun mengambil kompesasi merenung, mengeksplisitkan pengalamannya dan menulis. Ia merenung di Qa’lat Ibnu Salamah sampai tahun 780 H. Hasil perenungan mengeksplisitkan experiencenya itu melahirkan performance result dalam bentuk buku-buku monumental dan referensial. Yang paling popular sebagai referensi adalah Al-Muqaddimah dan dapat dijadikan rujukan menganalisis masalah-masalah sosial, politik, hukum, sejarah, ekonomi, pendidikan dsb. Juga ia menulis kitab Al-`Ibar dalam bentuk sejarah umum). Tahun 780 H ia kembali ke Tunisia dan di sana, buku al-’Ibar direvisinya.

Tahun 1382 menurut Ramayulis (2009:282), Ibnu Khaldun melaksanakan ibadah haji. Setelah melaksanakan ­haji, ia kemudian hijrah ke Iskandariah (Mesir), untuk menghindari kekisruhan politik di Maghrib. Di Kairo, Ibnu Khaldun disambut para ulama dan penduduk. Ia lalu membentuk halaqah di Al-Azhar. Ia didaulat raja menjadi tenaga pengajar ilmu fiqh mazhab Maliki di Madrasah Qamhiyah. Tak lama kemudian, dia diangkat menjadi ketua Mahkamah Agung pada kerajaan pemerintahan Dinasti Mamluk. Selain dikenal sebagai filosof, Ibn Khaldun ­dikenal sebagai sosiolog yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan. Hal ini antara lain terlihat dari pengalamannya sebagai_pendidik yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Pada situasi tertentu Ibnu Khaldun mengundurkan diri dari Mahkamah Agung Mamluk, karena keluarganya mengalami kecelakaan. Raja tidak melepaskannya, bahkan mengukuhkan sebagai tenaga pendidik di kerjaan pada sejumlah madrasah. Setelah menunaikan ibadah haji kali berikutnya ia kembali diangkat menjadi ketua Mahkamah Agung namun kembali mundur.

Tahun 803 H, Ibnu Khaldun bersama pasukan Sultan Faraj Barquq pergi ke Damaskus untuk mengusir Timur Lenk, penguasa Mogul. Berkat diplomasinya yang piawai mendapat kesempatan bertemu Timur Lenk yang dikenal sebagai penakluk yang disegani. Dia banyak berdiskusi dengan Timur. Akhirnya ia kembali ke Kairo dan kembali lagi ditunjuk untuk ke-3 kalinya menjadi ketua Mahkamah Agung.

Perjalanan hidup Ibnu Khaldun sarat dengan peristiwa-peristiwa  besar, ada pahit getir dalam pengembaraan[2], ada pengalaman dalam sejumlah tugas besar dan jabatan politis yang diembannya dan penegakan peradilan, demikian pula pengalaman besar dalam memperdalam knowledge yang secara formal ia termasuk terhalang dalam kelanjutan studinya karena sebelumnya ada situasi gawat di negerinya dan memaksanya merantau. Perlawatannya antara  Maghrib dan Andalusia, kemudian antara Maghrib dan negara-negara Timur memberikan hikmah yang cukup besar. Sebagai performance perjalan hidupnya, Ibnu Khaldun amat dikenal dunia sebagai  cendekiawan Islam dan ilmuan terkemuka, yang paling menonjol dicatat sebagai seorang Bapak ekonom, sosiolog, pionir filsafat ilmu sejarah/ pendiri historiografi, sastrawan, politikus dan pakar bidang pendidikan.

1.      Bapak ekonomi

 Sebagai ekonom Ibnu Khaldun mempunyai pemikiran ekonom teo-humanis, yang dalam prakteknya tidak saja mementingkan capital yang berpihak kepada kepentingan manusia, tetapi juga dalam pemikirannya mengalir energi keimanan. Banyak teori ekonominya melampaui pemikir ekonom barat. Sutiana (2009) mengakui, pemikiran ekonomi Ibnu Khaldun lebih dari tiga abad mendahului pemikiran para pakar ekonomi modern Barat. Pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis telah mengemuka jauh sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823). Muhammad Hilmi Murad secara khusus telah menulis sebuah karya ilmiah tahun 1962 dipresentasikan pada Simposium tentang Ibnu Khaldun di Mesir 1978 dengan topik Abu l-Iqtishad  Ibnu Khaldun. (Bapak Ekonomi Ibnu Khaldun). Buku karya intelektual ini memaparkan Ibnu Khaldun sebagai penggagas pertama ilmu ekonomi secara empiris.

Kelebihan pemikiran ekonomi Ibnu Khaldun, melihat ekonomi dari perspektif empiris, sedangkan kajian ekonom Barat masih bersifat ekonomi normatif, adakalanya dikaji dari perspektif hukum, moral dan ada pula dari perspektif filsafat. Karya-karya tentang ekonomi oleh para imuwan Barat seperti ilmuwan Yunani dan zaman scholastic bercorak tidak ilmiah, karena pemikir zaman pertengahan tersebut memasukkan kajian ekonomi dalam kajian moral dan hukum. Sedangkan Ibnu Khaldun mengkaji problem ekonomi masyarakat dan negara secara empiris. Fenomena ini, dimungkinkan karena Ibnu Khaldum secara praktis pernah memikirkan ekonomi rakyat ketika menjadi pejabat istana. Ia menjelaskan fenomena ekonomi secara aktual. Muhammad Nejatullah al-Shiddiqy (dalam Sutiana, 2009) menuliskan poin-poin penting materi kajian Ibnu Khaldun tentang ekonomi meliputi aneka ragam masalah ekonomi secara luas, termasuk ajaran tata nilai, pembagian kerja, sistem harga, hukum penawaran dan permintaan, konsumsi dan produksi, uang, pembentukan modal, pertumbuhan penduduk, ekonomi makro dari pajak dan pengeluaran publik, daur perdagangan, pertanian, indusrtri dan perdagangan, hak milik dan kemakmuran dsb. Al- Shiddiqiy, menyebut Ibnu Khaldun has rightly been hailed as the greatest economist of Islam/ pemikir ekonomi terbesar dalam Islam.

Sejalan dengan al-Shiddiqy, Boulokia dalam tulisannya Ibn Khaldun: A Fourteenth Century Economist memaparkan bahwa Ibn Khaldun menemukan sejumlah besar ide dan pemikiran ekonomi fundamental mendahului beberapa abad sebelum kelahiran ”resminya” di Eropa. Ia menemukan keutamaan dan kebutuhan suatu pembagian kerja sebelum ditemukan Smith dan prinsip tentang nilai kerja sebelum Ricardo. Ia telah mengolah suatu teori tentang kependudukan sebelum Malthus dan peranan negara di dalam perekonomian sebelum Keynes. Bahkan lebih dari itu, Ibn Khaldun telah menggunakan konsepsi-konsepsi ini untuk membangun suatu sistem dinamis. Dari temuannya Boulakia berpendapat, sangat bisa dipertanggung jawabkan jika Ibnu Khaldun dicatat sebagai salah seorang Bapak ilmu ekonomi.

Kebesaran Ibnu Khaldun dalam ilmu ekonomi sampai sekarang diakui dunia barat. Lafter (Sutiana, 2009), penasehat economi president Ronald Reagan, yang menemukan teori Laffter Curve, berterus terang bahwa ia mengambil konsep Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun mengajukan obat resesi ekonomi, yaitu mengecilkan pajak dan meningkatkan pengeluaran (ekspor) pemerintah. Pemerintah adalah pasar terbesar dan ibu dari semua pasar dalam hal “besarnya pendapatan dan penerimaan”. Jika pasar pemerintah mengalami penurunan, maka adalah wajar jika pasar yang lain pun akan ikut turun, bahkan dalam agregate yang cukup besar.

2.      Bapak Sosiologi dan piawai dalam ilmu politik  

Ibnu Khaldun didaulat di dunia internasional sebagai `Bapak Sosiologi Islam’. Ahmad Munir Mushlih (1981:13) menyebut:

يعتبر كثير من المفكرين المنصفين أن علم الإجتماع إنما تأيسس علم يد المفكر العربي المسلم ابن خلدون

(Sebagian besar para pemikir meyakini bahwa pendiri awal ilmu sosial hanya pemikir Arab Muslim bernama Ibnu Khaldun). Munir al-Ba’albaki (1979: ING-47) menyebut “Ibnu Khaldun sejarawan dan filosuf Arab pendiri filsafat sejarah dan ilmu sosial”. Tak dapat dipungkiri ia sebagai salah seorang pemikir sosial yang punya banyak pengalaman dengan masyarakat di samping berpengalaman sebagai pejabat di birokrat politik. Buah pikirnya tidak saja hasil penggalian teori-teori, tetapi hasil penelitian secara empiris, karenanya amat berpengaruh. Sederet pemikir Barat terkemuka, seperti Georg Wilhelm Friedrich Hegel, Robert Flint, Arnold J Toynbee, Ernest Gellner, Franz Rosenthal, dan Arthur Laffer, termasuk sekarang orang-orang besar sekitar Obama di AS amat mengagumi pemikirannya. Sabir (2009) menyebut dalam isu intelektual Membangun Dunia Baru Islam penulis Malik bin Nabi/ pewaris pemikiran Ibnu Khladun, terbit pada tahun 1994 setebal 264 halaman, menyebut pemikiran Ibn Khaldun sebagai pemikir sejarah besar memiliki kontribusi besar dalam pembaharuan pemikiran Islam.

Ibnu Khaldun, senang melakukan studi dan pengamatan fenomena masyarakat di mana ia tinggal dan berada. Pada akhirnya ia kaya dengan temuan mengenai kemasyarkatan, yang pada gilirannya mengantarkan Ibnu Khaldun sebagai sosiolog hebat. Penelitiannya di samping kehidupan masyarakat, juga sejarah, menggunakan metode spesifik dan berbeda dari metode penelitian ilmuan lainnya, yang pada saat itu dapat digolongkan sebagai cikal bakal lahirnya filsafat sejarah. Ia tidak lupa menyikat esensi kehidupannya sebagai warga masyarakat yang malang melintang di negeri kelahirannya Tunisia (Afrika) dan Andalusia, juga esensi experience-nya dalam dunia politik. Kekayaan pengalamannya ini mendukung lahir pemikiran besarnya mengenai sosiologi dan politik, besar kontribusinya dalam ilmu-ilmu sospol. Ide-idenya tentang masyarakat Arab seperti yang tertuang dalam buku “muqaddimah” yang sangat fenomenal, dapat dinilai sebagai sumber ilmu sosiologi dan politik.

Dalam Muqaddimah Ibnu Khaldun dibentangkan konsep-konsep daulat (negara). Ia menggambarkan manusia sebagai makhluk politik atau sosial, karena manusia membutuhkan orang lain dalam mempertahankan keberlanjutan kehidupannya. Kehidupan bermasyarakat dan mempunyai organisasi sosial sebuah kemestian. Ada sisi kesamaan dengan pendapat Al-Mawardi dan Abi Rabi’ mengenai keharusan hidupan bermasyarakat.

Menurut Ibn Khaldun manusia memerlukan bantuan dan pembelaan diri dari ancaman bahaya. Manusia diberikan akal atau kemampuan berfikir dan dua buah tangan oleh Tuhan. Dengan akal dan tangan, manusia bisa mempertahankan hidup. Organisasi kemasyarakatan merupakan sebuah keharusan. Demikian pula manusia membutuhkan organisasi sebagai basis untuk memperkuat eksistensi manusia. Dengan kematangan organisasi, masyarakat terbentuk, inilah peradaban. Seorang yang berpengaruh dalam masyarakat berhak diperecayai sebagai pengendali/ wazi’ (الوازع) atau pemimpin/ ketua (الرئيس). Pemimpin untuk mengatur, menyatukan dan mengembangkan kebersamaan. Keharusan organisasi dan pemimpin dalam masyarakat dianlogkkan Ibnu Khaldun (Muqaddimah: 139) dengan terbentuknya daulat (dinasti/ negara) atau mulk (kerajaan) untuk melindungi segenap rakyat. Diperlukan alat perlengkapan negara seperti tentara, kepala negara (perdana menteri) dan para pembantunya. Pemikiran  Pemikiran Ibn Khaldun ada kesamaan dengan pandangan  Aristoteles, Farabi, Ibn Abi Rabi’, al-Mawardi. Namun ada perbedaannya, pemikiran para filosof ini berdasarkan filsafat, sedangkan Ibnu Khaldun berdasarkan pengalaman empris dan hasil penelitian di dalam masyarakat serta pengalammannya dalam memimpin .

Ibnu Khaldun, banyak mencatan sosiologi masyarakat dalam fenomena dan kebudayaa/ peradaban Badui, orang kota dan solidaritas sosial lainnya. Di dalam masyarakat itu ditemukannya trend yang dapat menjadi factor penting dalam pembentuk Negara (daulah), yakni ‘ashabiyah (العصبـيّة). Pemikiran menarik dan mengangkat nama besar Ibnu Khaldun, karena dianggap sebagai sesuatu yang penting. ‘Ashabiyah mempunyai esensi makna group feeling, solidaritas kelompok, fanatisme kesukuan, nasionalisme, sentimen social dll. Di dalamnya juga ada esensi cinta, kasih sayang dan keberpihakan seorang manusia kepada saudara atau tetangganya ketika salah satu darinya diperlakukan tidak adil atau disakiti. Sattar (1980:10,15) yang menyebut ibnu Khaldun man’s spiritual nature, menulis: “within the natural community a force existed which Ibnu Khaldun called ashabiyah, commonly translated as group feeling” (di dalam masyarakat yang alami terdapat kekuatan hidup yang oleh Ibnu Khaldun disebut ‘ashabiyah, biasanya dapat diterjemahkan sebagai feeling kelompok).

Ibn Khaldun (Muqaddimah: 120-123) mengkategorikan kelompok sosial fundamental dan alamiah dalam dua fenomena konsep, pertama badawah (بداوة) meliputi komunitas pedalaman, masyarakat primitif, atau daerah gurun; kedua hadharah (حضارة) berbentuk kehidupan kota, masyarakat beradab. Kehidupan kota secara esensial cenderung bernafsu mencari yang enak saja dan penuh kemewahan dan mengkuti nafsu. Sedangkan orang pedalaman. Badui cenderung sekedar pemenuhan kebutuhan.

Khusus bangsa Arab menurut Ibn Khaldun, kuat ashabiyah kesukuan/ kabilah, kalau tidak ada rasa persamaan ketuhanan, orang Arab tak dapat mendirikan dinasti. Persamaan ketuhanan itu ditawarkan agama wahyu yang dibawa Nabi saw. Sebab karakter Arab keras, angkuh dan iri hati satu sama lain, terutama dalam soal-soal politik (kekuasaan). Semua itu menyebabkan mereka manusia yang sulit diatur, karena keinginannya jarang sekali terpenuhi. Akan tetapi, jika mereka telah memeluk agama yang dibawa oleh seorang Nabi SAW atau mengikuti ajaran seorang wali, maka mereka akan mempunyai prinsip-prinsip yang tertanam dalam lubuk hati untuk menguasai hawa nafsu. Keangkuhan dan iri hati mereka bisa ditekan. Dengan demikian, mudahlah menyatukan dan membimbimbing mereka. Sebab, agama mengikis keangkuhan dan mengurangi iri hati dan persaingan. Teori Ibnu Khaldun secara tepat disimpulkan oleh D.B. MacDonald bahwa orang Arab pada hakekatnya tidak mampu mendirikan suatu pemerintahan, kecuali bila disatukan dengan semangat keagamaan. Teori tersebut kiranya memang bisa diterapkan paling tidak di kalangan orang badui Arab pada awal-awal perkembangan Islam. Dengan kata lain, kebenaran teori Ibnu Khaldun tersebut juga bisa dicarikan buktinya melalui sejarah awal berdirinya kerajaan Arab Saudi oleh Muhammad Ibnu Saud (1702-1792 M) yang pergerakannya ditopang kuat dengan paham keagamaan dari Muhammad Ibnu Abd. Al-Wahab (1703-1787 M), seorang ulama pelanjut paham ortodoksi Ibnu Taimiyah (1263-1328 M). Artinya hanya karena agama yang dibawa Nabi mereka akhirnya orang Arab bisa dipersatukan dan dikendalikan (Muqaddimah: 151). Namun menurut Ibnu Khaldun, bahwa motivasi Agama saja tidak cukup dan tetap dibutuhkan solidaritas kelompok (‘ashabiyyah). Tetapi agama juga dapat memperkokoh solidaritas kelompok tersebut dan memperkuat keampuhannya.

Dalam kepemimpinan politik Ibn Khaldun berfikir bahwa seorang Raja haruslah berasal dari solidaritas kelompok yang paling dominan. Sebab dalam mengendalikan sebuah negara, menjaga ketertiban, serta melindungi segenap bangsa dan tanah tumpah dari ancaman musuh baik dari luar maupun dari dalam, membutuhkan dukungan, loyalitas yang besar dari rakyatnya. Kekuatan ini hanya bisa diperoleh jika ia berasal dari kelompok yang dominant mendukungnya.

Khilafah (imamah, sulthanah) menurut Ibn Khaldun adalah pemerintahan yang berlandaskan Agama dan memerintahkan rakyatnya sesuai dengan petunjuk Agama, baik dalam hal duniawi mapun ukrawi. Khilafah setelah Nabi Muhammad, ialah pemimpin yang dapat melanjutkan tugas mempertahankan agama dan menjalankan kepemimpinan umat. Lembaga imamah pertama terlihat kukuh berlandaskan agama, dipimpin oleh Abu Bakar yang dibai’at sebagai khalifah pertama. Menurut Ibn Khaldun pemerintahan dapat dibedakan dalam tiga bentuk: pertama pemerintahan natural (siyasah thabi’iyah  – سياسة طبيعية) yang rajanya otoriter, individualis, otokrasi, atau inkonstitusional berpotensi menyesatkan rakyatnya ke dalam tujuan nafsu; kedua, pemerintahan berdasarkan nalar (siyasah ‘aqliyah- سياسة عقلية) bisa dalam bentuk republik dan atau kerajaan yang adil dalam batas tertentu membawa rakyatnya sesuai dengan rasio dalam mencapai kemaslahatan duniawi dan mencegah kemudharatan; ketiga pemerintahan berlandaskan Agama (siyasah Diniyyah – سياسة دينية ), yaitu dapat membawa rakyatnya sesuai dengan tuntunan agama. Menurut Ibn Khaldun model pemerintahan seperti inilah yang terbaik, karena pelaksanaan hukum bersumber dari Agama dan dapat memberi jaminan keamanan dan kesejahteraan. Pantaslah dengan pemikirannya ini, pandangan pemikir Arab, NJ.Dawood menjulukinya sebagai negarawan dan ahli hukum dan sejarawan.

Ibn Khaldun dalam aspek peradaban besar dituangkan dalam Muqaddimah, ia memandang berpangkal dari masyarakat yang telah ditempa dengan kehidupan keras, kemiskinan dan penuh perjuangan. Keinginan hidup makmur dan terbebas dari penderitaan hidup ditambah dengan ‘ashabiyyah di antara mereka membuat mereka berusaha keras untuk mewujudkan cita-cita mereka dengan perjuangan yang keras. Impian yang tercapai kemudian memunculkan sebuah peradaban baru. Kemunculan peradaban baru ini pula biasanya diikuti dengan kemunduran suatu peradaban lain. Proses tadi terjadi berulang, proses ini disebut teori Teori Siklus. Dalam proses ini negara dan pemimpin mempunyai tanggung jawab dan mampu memfasilitasi. Syarat menjadi khalifah/ sultan/ imam justru di samping memiliki dukungan kelompok besar, beragama yang benar,  sehat panca indra/ badan, adil, juga mampu dan bepengetahuan.

Dalam semua bidang studinya mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dari para gurunya. Namun studinya terhenti karena penyakit pes telah melanda selatan Afrika pada tahun 749 H. yang merenggut ribuan nyawa. Ayahnya dan sebagian besar gurunya meninggal dunia. Ia pun berhijrah ke Maroko selanjutnya ke Mesir; Periode kedua, ia terjun dalam dunia politik dan sempat menjabat berbagai posisi penting kenegaraan seperti qadhi al-qudhat (Hakim Tertinggi). Namun, akibat fitnah dari lawan-lawan politiknya, Ibnu Khaldun sempat juga dijebloskan ke dalam penjara.

Ibnu Khaldun setelah keluar dari penjara, ia memasuki periode kehidupan yang berkonsentrasi dalam bidang penelitian dan penulisan. Ia terus merevisi al-‘Ibar dan melengkapinya dengan mengolah catatan-catatan lama yang dibuatnya. Akhirnya kitab al-’Ibar menjadi 7 (tujuh) jilid. Titelnya pun disempurnakan menjadi Kitab al-’Ibar wa Diwanul Mubtada’ awi l-Khabar fi Ayyami l- ‘Arab wa l- ‘Ajam wa l-Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawis Sulthan al-Akbar. Kitab ini pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh De Slane tahun 1863, dengan judul Les Prolegomenes d’Ibn Khaldoun. Namun pengaruhnya baru dirasakan 27 tahun kemudian (1890) ketika terjadi arus pencerahan sosiolog modern dengan pendapat-pendapat Ibnu Khaldun dikaji dan diadaptasi oleh sosiolog-sosiolog Jerman dan Austria.

Banyak karya intelektual Ibnu Khaldun yang bermutu. Selain muqaddimah (مقدمة) berkaitan dengan al-’Ibar (العبر) bercorak sosiologis-historis dan filosofis, juga terdapat al-Ta’rif bi Ibn Khaldun wa Rihlatuhu Gharban wa Sharqan (التعريف بــابن خلدون و رحلة غربا و شرقا) sebuah autobiografi,  Lubab al-Muhassal fi Ushul al-Diin sebuah teologi dan ringkasan dari Muhassal Afkaar al-Mutaqaddimiin wa al-Muta’akh-khiriin karya Imam Fakhruddin ar-Razi. DR. Bryan S. Turner, guru besar sosiologi di Universitas of Aberdeen, Scotland menulis artikelnya “The Islamic Review & Arabic Affairs” memberikan apresiasi terhadap karya-karya Ibnu Khaldun. Disebutkannya “tulisan-tulisan Ibnu Khaldun mengenai masalah sosial dan sejarah menggambarkan tradisi intelektual, diterima dan diakui Barat”. Buah pikir Ibnu Khaldun begitu memukau dan tak heran, ahli sejarah Inggris, Arnold J Toynbee menganggap Muqaddimah Ibnu Khaldun sebagi karya terbesar dalam bidang sosiologi, sejarah, filsafat, politik dan pendidikan.

Sesuatu yang menjadi satatan penting yang tidak dapat diabaikan adalah, bahwa Ibnu Khaldun mempunyai minat besar kepada ilmu pengetahuan dan tidak pernah mengabaikan sejarah. Ia adalah seorang peneliti yang tak pernah berhenti menelidiki pengetahuan empiris. Komunitas-komunitas masyarakat tidak pernah telepas dari pengamatannya. Selain aspek sosial kemasyarakatan, norm spiritual juga selalu menjadi focus kajiannya. Ia seperti memberi penyadaran, bahwa kehancuran negara, masyarakat, kelompok, individu boleh jadi disebabkan lumpuhnya nilai spiritual dan enerji keimanan tidak hidup. Demikian pula ia memberi penguatan pendidikan agama dalam menciptakan insan yang beriman dan bertakwa serta menciptakan kemaslahatan masyarakat.

 

B.   Pendidikan Ibnu Khaldun dan pengorganisasian knowledge dalam sistim Kurikulum

Ibnu Khaldun mempunyai perhatian besar terhadap masalah-masalah pendidikan. Ia pun juga berpengalaman sebagai praktisi pendidikan, mulai dari menjadi guru di beberapa madrasah di zamannya, juga pernah menjadi guru besar di Universitas al-Azhar, Kairo yang didirikan dinasti Fathimiyyah. Selain mengajar, pada awalnya Ibnu Khaldun pernah menjadi murid yang tekun belajar al-Quran, tafsir, hadis, usul fikih, tauhid, fikih madzhab Maliki, ilmu nahwu dan sharaf, ilmu balaghah, fisika dan matematika di samping sastra, sejarah, filsafat, politik, hukum dll.

1.   Konsep pendidikan Ibnu Khaldun

Pendidikan dipandang Ibnu Khaldun, tidak saja merupakan rangkaian aktivitas bersifat pemikiran dan perenungan, jauh dari aspek-aspek pragmatis kehidupan, akan tetapi juga dipandangnya sebagai gejala konklusif yang timbul akibat terbentuknya masyarakat dan perkembangan kebudayaan. Menurutnya pendidikan adalah  gejala sosial dan identitas kemanusiaan. Muqaddimah Ibnu khaldun meskipun tidak memberikan definisi pendidikan secara konkrit, namun di dalamnya terapat gambaran umum mengenai pendidikan dalam kelompok knowledge yang ada di dalamnya. Ibnu Khaldun menjelaskan, siapa yang tidak mendapat pendidikan dari orang tuanya, maka zaman akan mendidiknya. Artinya, siapa yang tidak mendapatkan pendidikan tata krama pergaulan dari orang tua, guru, tokoh/ sumber masyarakat, dipastikan mereka mendapatkannya secara alamiah.

Menurut Ibnu Khaldun pendidikan bukan hanya merupakan proses belajar mengajar dalam ruang terbatas pada empat bidang dinding, tetapi pendidikan adalah suatu proses, di mana manusia secara sadar berproses mengcover, menyerap dan mengambil makna dari berbagai fenomena sepanjang zaman. Secara esensial, katanya manusia itu bodoh, kemudian berilmu dengan keberhasilan menyerap pengetahuan secara empiris. Ia memberikan pemahaman bahwa yang membedakan manusia dan binatang adalah akal. Dengan akal manusia menjadi tahu membedakan sesuatu dan mendapatkan pengetahuan. Dipaparkannya manusia awalnya dari mani (setetes sperma) berproses menjadi ‘alaqah  (setetes darah), berubah menjadi mudhqah (sepotong daging), lalu Allah memberi roh, menentu kehidupannya, menganugerahi pendengaran, penglihatan dan akal. Artinya awal mula manusia itu sepenuhnya materi, tidak mempunyai pengetahuan. Kemudian organ tubuh mencari dan mencari pengetahuan bagi kesempurnaannya dan eksistensinya. Siap dididik menerima ajaran Nabi dan mengamalkannya bagi perimbangan duniawi dan ukhrawi. Manusia dengan akalnya berfikir dan menyerap berbagai pengetahuan, pengetahuan menjadi ilmu lalu mendapatkan keahlian.

Tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya secara prinsipil ada 6 bentuk: (a) mempersiapkan kehalusan perasaan keagamaan dengan mengajarkan syair-syair (sastra)[3] yang bernafaskan agama bagi pembentukan iman dan mempperkuat fithrah. Nafas keagamaan itu bersumber al-Qur’an dan Hadits, (b) pembentukan akhlak bagi penumbuhan dan membentuk kepribadian manusia yang sempurna, (c) menyiapkan sikap sosial kemasyarakatan, (d) menyiapkan vokasional (kejuruan/ modal kerja) bagi seseorang, menaruh perinsip pendidikan sepanjang umur dan kewajiban mencari keterampilan, (e) Menyiapkan daya pikir untuk meraih pekerjaan, (f) menyiapkan rasa seni, termasuk musik, syair, khat, arsitektur dll.

Ramayulis (2009:283) mengklasifikasi dalam tiga bentuk tujuan pendidikan ibnu Ibn Khaldun yakni:

a.   Tujuan peningkatan pemikiran

Ibn Khaldun memberikan kesempatan kepada akal untuk lebih giat dan melakukan aktivitas, dilakukan melalui proses menuntut ilmu dan keterampilan. Dengan ilmu dan keterampilan, seseorang dapat meningkatkan kegiatan potensi akalnya. Di samping itu, melalui potensinya, akal akan mendorong manusia untuk memperoleh dan melestarikan pengetahuan. Melalui proses belajar, manusia senantiasa mencoba meneliti pengetahuan-pengetahuan atau informasi-informasi yang diperoleh oleh pendahulunva. Manusia mengumpulkan fakta-fakta dan menginventarisasikan keterampilan­ yang dikuasainya untuk memperoleh lebih banyak warisan pengetahuan yang semakin meningkat sepanjang masa seoagai hasil dari aktivitas akai manusia. Ditegaskan tujuan pendidikan Ibnu Khaldun adalah peningkatan kecerdasan manusia dan kemampuan berfikir. Dengan kemam­puan itu, manusia akan dapat meningkatkan pengetahuan dengan cara memperoleh lebih banyak warisan pengetahuan pada sa’at belajar.

b.   Tujuan peningkatan kemasyarakatan

Ibnu Khaldun memandang ilmu dan pengajaran diperlukan bagi peningkatan peradaban manusia. Dimulai dari fungsi ilmu dan pengajaran bagi peningkatan taraf kehidupan masyarakat manusia ke arah yang lebih baik. Semakin dinamis budaya suatu masyarakat, maka akan semakin bermutu dan dinamis pula keterampilan masyarakat tersebut. Untuk itu, manusia seyogyanya senantiasa berusaha memperoleh ilmu dan keterampilan ­sebanyak mungkin sebagai salah satu cara membantunya untuk dapat hidup dengan baik dalam masyarakat yang dinamis dan berbudaya. Jadi, eksistensi pendidikan menurutnya merupakan satu sarana yang dapat membantu individu dan masyarakat menuju kemajuan dan kecemerlangan. Di samping bertujuan meningkatkan segi kemasva­rakatan manusia, pendidikan juga bertujuan mendorong terciptanva tatanan kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik.

c.   Tujuan pendidikan dari segi kerohanian

Dari segi kerohanian, tujuan pendidikan untuk meningkatkan kerohanian manusia dengan menjalankan praktek ibadat, zikir, khalwat (menyendiri dan mengasingkan diri dari khalayak ramai) sedapat mungkin untuk tujuan ibadah sebagaimana yang dilakukan oleh para sufi.

Dari perinsip-perinsip pendidikan Ibnu Khaldun dari perspektif para pakar termasuk sumber pakar pendidikan Ramayulis tadi, dapat dikukuhkan perinsip tujuan pendidikan Ibnu Khaldun adalah untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu. Denan ilmu pengetahuan orang mudah mencari keahlian, dengan keahlian membuka jalan memperoleh rizki. Target pendidikan memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan mencari peluang kerja. Kematangan berpikir, alat kemajuan ilmu industri dan sistem sosial. Dalam rumusan pendidikannya terdapat prinsip keseimbangan, kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Secara tegas perinsip pendidikan baik dalam pemikiran dan prkatek hidup Ibnu Khaldun setidaknya ada arah, (1) mengembangkan informasi dengan fakta, (2) meneliti dan raih lebih banyak  pengetahuan dulu dan kini warisan ilmu sepanjang masa, (3) melestarikan pengetahuan dengan peningkatan belajar, gali ilmu, cari keterampilan, kembangkan produk akal dan kecerdasan, (4) membangun peradaban manusia ke arah pembentukan masyarakat maju dan sejahtera, (5) mengembangkan keterampilan masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan dan tatanan kehidupan yang berkualitas. Semuanya itu tidak terlepat dari perinsip yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadis. Artinya secara prinsipil ciri khas pendidikan Ibnu Khaldun adalah pendidikan Islam, memberikan perinsip moral religius yang ukhrawi tanpa mengabaikan masalah-masalah duniawi, yang memberikan perhatian kepada subjek akal, pengetahuan, kecerdasan  hidup yang beragama dan bermoral. Perinsip pendidikan yang tergambar ada tujuan, sasaran, program, knowledge pendidikan Ibnu Khaldun ini dapat dikonkritkan dalam matrik sbb.:

Tabel  1      Arah Pendidikan Ibnu Kaldun

TUJUAN SASARAN PROGRAM KNOWLEDGE
  1. Mempersiapkan kehalusan perasaan keagamaan dengan mengajarkan syair-syair (sastra) yang bernafaskan agama bagi pembentukan iman dan mempperkuat fithrah bersumber al-Qur’an dan Hadits,
  2. Pembentukan akhlak bagi penumbuhan dan membentuk kepribadian manusia yang sempurna
  3. Menyiapkan sikap sosial kemasyarakatan,
  1. Menyiapkan vokasional (kejuruan/ modal kerja) bagi seseorang, menaruh perinsip pendidikan sepanjang umur dan kewajiban mencari keterampilan,
  1. Menyiapkan daya pikir untuk meraih pekerjaan,
  1. Menyiapkan rasa seni, termasuk musik, syair, khat, arsitektur dll.

 

  1. Kehalusan perasaan agama
  2. Pembentukan iman
  3. Memelihara fithrah
  1. Illmu self-guedance
  2. Kepribadian insan kamil
    1. Penguatan kelompok sosial
    2. Kepemimpinan masyarakat
    3. Quwat dan raqya berfikir
    4. Kerja aktif
    5. Peningkatan kehidupan masyarakat
  1. Cerdas dan kerja aktif
  2. Ilmu dan Kesejahteraan
  1. Kehalusan fikir dan budi
  2. Jiwa rasa keindahan

 

Agama dan sastra’Ulum insaniyah (Humaniora)

’Ulum Ijtima’iyah (Ilmu-ilmu sosial)

Kejuruan

Kejuruan

Seni

SyairQur’an

Hadits

Filsafat, tasauf, sivic, sejarah, hukum

Sosiologi (fenomena), antropologi (budaya), politik

Teknik, matematik, science

Teknik, fisika, metafisika,  matematik, science

Seni Rupa (khat, arsitektur),  Seni Suara (sastra/ syair, musik)

Dari perinsip pendidikan Ibnu Khaldun ini, sudah tereksplisit ciri kurikulum pendidikan Islam. Karena mengikuti Hasan Langgulung (1985, baca juga Ramayulis, 2009:191-206) mengenai perinsip kurrikulum dalam ciri utamanya terdapat tujuan dan muatan sejumlah knowledge (pengetahuan). Ibnu Khaldun meski belum ada nomenklatur ”kurikulum” ketika itu, sudah mengorganisasikan (menyusun dan mengelompokan) knowledge (pengetahuan) yang semestinya diajarkan. Artinya secara resmi nomenklatur kurikulum masa itu belum ada tetapi praktek pendidikan dengan arah perinsip kurikulum amat kuat. Dari tujuan pendidikan Ibnu Khaldun seperti yang digambarkan dalam matrik tadi, betapa sejumlah pengetahuan sudah terorganisir (tersususun dan terkelompok).

2. Pengorganisasian pengetahuan Ibnu Khaldun

Ramayulis (2009:281-287) secara lengkap menggambarkan pengorganisasian pengetahuan yang menggambarkan perinsip kurikulum dalam pendidikan Ibnu Khaldun. Ia sudah sedemikian menarik membuat kiasifikasi ilmu dan menerangkan pokok-­pokok bahasan bagi peserta. Sepertinya ia sudah memberi penyadaran bahwa kurikulum merupakan salah satu sarana untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Secara skematik perinsip kurikulum Ibnu Khaldun ini dapat ditayangkan sbb.:

Skema   1.   Perinsip kurikulum Ibnu Khaldum

Ia sudah memuat dan mengorganisasikan knowledge dalam tiga kelompok pengetahuan (Ramayulis, 2009:284) yaitu:­

a.   Kelompok ilmu Lisan (bahasa) : ilmu tentang tata bahasa (gramatika), sastra dan bahasa yang tersusun secara puitis (syair).

b.   Kelompok ilmu Naqli : ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunnah Nabi.

c.   Kelompok ilmu Aqli : ilmu-ilmu yang diperoleh manusia melalui kemampuan berfikir. Proses perolehan tersebut dilakukan melalui panca indera dan akal

Ketiga kelompok ilmu ini dari perspektif urgensi dan faedahnya bagi peserta dididik diorganisasikan Ibnu Khaldun pula ke dalam empat kategori (baca Ramayulis, 2009:286) yakni:

a.  Ilmu Syari ah dengan semua jenisnya

b. Ilmu Filsafat (Rasio), ilmu Alam (Fisika) dan ilmu ke-Tuhanan (Metafisika)

c.  Ilmu alat yang membantu ilmu agama ilmu Bahasa Gramatika dan sebagainya.

d.  Ilmu alat yang membantu ilmu Falsafah (Ratio), ilmu Mantiq dan Ushul Figh

Secara konkrit keempat kategori ilmu Ibnu Khaldun ini dapat ditayangkan dalam skema sbb.:

Skema   1.             Klassifikasi ilmu Ibnu Khaldun dalam perspektif kepentingan dan manfaat untuk anak didik.

Keempat kategori ilmu yang dibagi Ibn Khaldun ini pada perinsipnya dua klassifikasi, yakni (1) klasifikasi ilmu-ilmu pokok dan (2) klasifikasi ilmu-ilmu alat. Klasifikasi ilmu-ilmu syari’ah dan ilmu-ilmu filsafat, dapat ditempatkan pada satu klasifikasi yang Ibnu Khaldun menamakannya dengan ilmu-ilmu pokok (al-ulum al-maqsudah bi zatiha). Namun dalam perinsipnya lebih mengutamakan ilmu-­ilmu syari’ah dari pada ilmu-ilmu filsafat, karena ilmu-ilmu syari’at itu merupakan asas dari ilmu-ilmu lainnya. Ia mempertegas pada perinsipnya ilmu syari’ah datang dari Allah dengan pe­rantaraan para Nabi. Selanjutnya manusia hendaknya menerima apa yang dibawa oleh para Nabi, melaksanakan dan mengikutinya untuk tercapainya ke­bahagiaan.

Adapun klasifikasi ketiga dan keempat (ilmu alat membantu syari’at dan ilmu filasfat), Ibn Khaldun mengutamakan ilmu-ilmu alat untuk membantu mempelajri ilmu-ilmu agama, karena sangat penting untuk membantu- memahami teks-teks mulia (al-nushush al-muqaddasah), al-Qur’an dan hadis, terutama ilmu bahasa Arab dengan berbagai jenisnya. Artinya Ibnu Khaldun meletakkan ilmu-ilmu filsafat pada posisi terakhir. Namun ia menganjurkan peserta didik mempelajari ilmu alat: bahasa Arab dengan berbagai jenisnya, ilmu ratio sekedarnya untuk membantu memahami ilmu syari’at yang merupakan ilmu pokok.

Dipahami kelassifikasi Ibnu Khaldun tadi dalam mengorganisasikan knowledge ke dalam kelompok ilmu naqliyang didekatkannya dengan ilmu-ilmu syari’at, ilmu aqliyang didekatkannya dengan ilmu filsafatdan ilmu Lisani yang didekatkannya dengan ilmu alat syari’at dan filsafat.

Ilmu naqli dari perspektif manfaat dan kepentingan peserta didik, Ibnu Khaldun merinci bidang ilmunya (baca Ramayulis, 2009:285) sbb.:

(1) Al-Qur’an

(2) Hadis

(3) Ulum al-Qur’an

(4) Ulum al-Hadis

(5) Ushul al-Fiqh

(6) Fiqh

(7) Ilm al-Kalam

(8) Ilm al-Tasawuf

(9) Ilmu Ta’bir al-Ru’ya

Ada perinsip penting yang dianut Ibnu Khaldun, disebutkan al-Qur’an seharusnya pertama kali diajarkan, karena Al-Qur’an itu sumber syari’at dan menjadi pegangan.

Sedangkan ilmu aqli Ibnu Khaldun membagi ke dalam bidang:

(1) Ilmu Logika (Mantiq)

(2) Ilmu Fisika, termasuk di dalamnya ilmu kedokteran dan ilmu pertanian

(3) Ilmu Metafisika (‘Ilm al-Ilahiyah)

(4) Ilmu Matematika termasuk di dalamnya ilmu Geografi. Aritmatika clan Aljabar, ilmu Musik, ilmu Astronomi dan ilmu Nujum.

Tentang ilmu nujum ada catat peringatan Ibn Khaldun, sebagai ilmu fasid (merusak). Pandangannya didasarkan pada asumsi bahwa ilmu nujum dapat dipergunakan untuk meramalkan segala kejadian sebelum terjadi atas dasar perjalanan bintang-bintang. Peramalan begini termasuk bathil dan berlawanan dengan ilmu tauhid yang pada perinsipnya diperingatkan semua kejadian atas kehendak Allah.

Ilmu naqli menurut Ibnu Khaldun hanya dipejarai oleh umuat Islam, sedangkan ilmu aqli dapat dipelajari non Islam. Keduanya mempunyai kelompok disiplin ilmu. Secara konkrit pengelompokan ilmu pengetahuan Ibnu Khaldun sebagai perinsip kurikulum dapat dibuatkan matriknya sbb.:

Dari pengelompokan knowledge oleh Ibnu Khaldun ini kentara sekali perinsip kurikulum pendidikan Islam, meskipun di masanya belum dikenal istilah kurikulum. Ketika al-Syaibaniy (baca Ramayulis, 2009:196) menyebut perinsip kurikulum pendidikan Islam yang intinya berorientasi pada Islam termasuk ajaran dan nilainya, maka susunan kelompok ilmu oleh Ibnu Khaldun ini jelas-jelas sumber utama ilmu dalam Syari’at Islam yakni al-Qur’an dan Hadis. Ilmu syari’at diperkuat ilmu filsat dan alat pemahamannya disebutkan gramatikal bahasa (qawa’id), mantiq dan ushul fiqhi.

  1. IV.       KESIMPULAN

Dari paparan tadi, dapat disimpulkan bahwa perjalanan hidup Ibnu Khaldun sarat dengan peristiwa-peristiwa  besar yang dimaknai dengan penyadaran bahwa kualitas orang dan masyarakat ditentukan faktor pendidikan dan dengan kesadaran itu Ibnu Khaldun melahirkan konsep-konsep pendidikan. Di dalam perjalanan hidupnya, ada pahit getir dan manis baik dalam pengembaraan maupun pengalaman yang diperoleh dari sejumlah tugas besar dan jabatan politis yang diembannya dan penegakan peradilan, demikian pula pengalaman besar dalam memperdalam knowledge yang secara formal ia termasuk terhalang dalam kelanjutan studinya karena sebelumnya ada situasi gawat di negerinya dan memaksanya dropout lalu merantau. Perlawatannya antara  Maghrib dan Andalusia, kemudian antara Maghrib dan negara-negara Timur memberikan hikmah yang cukup besar. Sebagai performance perjalan hidupnya, Ibnu Khaldun amat dikenal dunia sebagai  cendekiawan Islam dan ilmuan terkemuka, yang paling menonjol dicatat sebagai seorang Bapak ekonom, sosiolog, pionir filsafat ilmu sejarah, pendiri historiografi, sastrawan, ahli hukum, politikus dan pakar bidang pendidikan Islam.

Konsep pendidikan Ibnu Khaldun dan pengorganisasian knowledge dalam sistim kurikulum amat menarik dalam pengembangan pendidikan Islam. Ia membuat perinsip-perinsip kurikulum pendidikan Islam, tidak saja dengan ciri utama merumuskan tujuan pendidikan, juga amat menarik dalam mengorganisasikan knowledge ke dalam tiga kelompok besar yakni: a. al-lisani, b. al-naqli, c. al-aqli. Bentuk ilmu l-lisani: (a) al-adab (sastra) yakni puisi dan prosa, (b) bahasa (sharaf/ morpologi, nahu/ sintaxis); Bentuk ilmu l-naqli: (a) ulum al-Qur’an, (b) ulum al-Hadis, (c) fiqh/ usul fiqhi, (d) ilmu kalam, (e) ilmu tasauf, (f) ilmu ta’bir rukyah; Bentuk ilmu l-‘aqli: (a) ilmu logika (manthiq), (b) ilmu fisika, (c) ilmu metafisika (ulum ilahiyah), (d) ilmu matematik. Pengelompokan pengetahuan Ibnu Khaldun, justru memperjelas perinsip kurikulum pendidikan Islam di mana muatan pengetahuan di dalamnya dan pengayaannya bersumber dari sumber Islam al-Qur’an dan Hadis.

 

REFERENSI

Al-Ba’albaki, Munir, Al-Maurid, A Modern English – Arabic Dictionary. Lebanon- Bairut: Dar al-Fikri lil-Malayin, 1979

Al-Maktabat al-Tarikhiyah, Al-Khuthbat al-Muqaddamah, Muqaddamah Ibnu Khaldun. Mishra: Nasyar al-Maktabat al-Tarikhiyah, tt

Al-Maira, Abu, Biografi Ibnu Khaldun. Online: http://jacksite.wordpress.com , 2007

Al-Najihiy, Muhammad Labib, Dr., Falsafat al-Tarbiyah. Al-Qahirah: al-Maktabat al-Tarbawiyah, 1967.

Al-Khasyab, Mushtafa, Dr., ‘Ilmu l-Ijtima’ wa Madarisihi, al-Kitab al-Awwal, Tarikh al-Tathawwur al-Ijtima’i  wa Tathawwurihi, Naqalan ‘an Dr. Thaha Husain fi Kitabihi Falsafah Ibnu Khaldun al-Ijrima’iyah. Al-Qahirah:tp, 1966

Al-Yafiy, Abdulkarin, Dr., Tamhid fi ‘Ilmi l-Ijtima’iy. Damsyiq: tp, 1957

Al-Tanthajiy, Muhammad bin Tawait, tahqiq, Al-Ta’rif bi ibn Khaldun wa Rihlatihi Gharban wa Syarqan, Ta’lif ‘Abdurrahman bin Khaldun. Al-Qahirah: Lajnat al-Ta’lif wa l-Nasyar, 1951

Bary, W.Theodore, ed. Ibnu Khaldun in Approaches to the Oriental Classic. New York: Columbia University Press, 1959.

Leila, Amra, Ibnu Khaldun: Ilmuan Besar dari Tunisia. Online: http://www. muslimphilosophy.com/, 2008

Mushlih, Ahmad Munir, al-Tafkir al-Ijtima’iy ‘inda Ibnu Khaldun. Riyadh: al-Faishal, 1981.

Muslim Mahdi, Ibnu Khaldun’s Philosophy of History (Phoenix Books), Chicago: University of Chicago Press, 1964.

Muslimphilosophy, Muqaddimah. Online: http://www.muslimphilosophy.com/ , 2009

Ramayulis, Prof. Dr., dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Tela’ah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya. Jakarta: Kalam Mulia, 2009

Sattar, Ellen.M. Dr., Ibnu Khaldun the Author of the Muqaddimah. Dacca: Shaikh Fazlur Rahman Islamic Foundation Bangladesh, 1980.

Sutisna, Senjaya, Ibnu Khaldun, Peletak Dasar Ilmu Sosial (Online, 2009)

Trans, Franz Rosenthal, the Muqaddimahn Trans. New York: Panthoen Press, 1964

Wikipedia, Ibnu Khaldu. Online: http://id.wikipedia.org/wiki/ , 2009

Yulizal, Yunus, Guru Perennialist dalam Perspektif Pendidikan Islam. Padang : PPs.IAIN-IB, 2009

____________, al-Qashash al-Islamiyah fi Taśqif Syakhshiyat al-Athfāl. Padang : IAIN-IB Press, 2002.


[1]Yulizal Yunus, Lektor Kepala Sastra Fakultas Adab, Ketua Pusat Penelitian IAIN Imam Bonjol Padang.

[2]Ibnu Khaldun punya konsep faktor merantau/ mengembar, Sattar (1980:13) mencatat Ibnu Khaldun saw that groups of people existed strung out along a continuum from simple desert nomads, though cattle farmers, to small tows and finally to cities (Ibnu Khaldun melihat bahwa kelompok orang yang hidup eksis menyebabkan terjadinya rangkaian pengembaraan padang pasir, meskipun petani lembu, ke gandengan kecil dan akhirnya ke kota besar).

[3]Salah satu materi dan metode belajarnya adalah Sastra. Ibnu Khaldun menganut perinsip ini. Justru pada awal pendidikan Islamnya juga belajar sastra. Ia men-tashnif (mengklasifikasikan) sastra masuk ilmu lisani (Ramayulis, 2009). Pengajaran sastra dianggap penting membekali rasa keindahan dalam membentuk kehalusan pikir dan jiwa dalam memahami agama (baca pula al-Najihiy, 1967:291-297).

Pos ini dipublikasikan di Tokoh Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s