NILAI KONSELING ULAMA KLASIK JANAN THAIB TERHADAP UMAT

Abstraks

Janan Thaib seorang ulama tamatan universitas al-Azhar Kairo dan tokoh Digulis dalam pergerakan kemerdekaan Indoensia yang belum diproklamirkan sebagai pahlawan perjuangan kemerdekaan RI seperti rekannya Iljas Ja’cub, ditemukan sebagai ulama konselor yang piawai. Ia memberikan pelayanan konseling terhadap umat tidak saja menggunakan teknik dialog directive, nondirective tertapi juga campuran keduanya dalam bentuk eclective counseling. Bukunya al-Muqamma’at al-Dhakham fi l-Raddi ‘ala Man Ankara ‘Ilma l-Kalam (المقمعة الضخام فى الرد على من أنكر علم الكلام – Tekanan Kuat dalam Penolakan terhadap Orang Ingkar Ilmu Kalam) sarat dengan nilai konseling berisi nasehat dan taushiyah kepada kelompok paham traddisional. Buku ini disajikan dalam bentuk nondirective menjawab persoalan Kitab Nazam ulama modernis Muhammad Karim. Inti konselingnya membantu menyelesaikan masalah kelompok yang belajar ilmu kalam dan sifat 20, yang ditentang kaum modernis Muhammad Karim itu tahun 1921.

Keyword: Konseling dan Masalah Ilmu Kalam

 

  1. I.             PENDAHULUN

Experience praktek konseling non profesi sudah cukup lama dalam sejarah Islam dan banyak dicontohkan Nabi-nabi dan para ulama duhulu. Hanya saja catat Hayati (2010) nomenclature konseling itu belum dikenal masa itu apalagi rukun konseling itu seperti dalam praktek profesi konseling sekarang. Sungguh pun demikian proses pelaksanaannya ada yang persis dilakukan seperti proses praktek konseling sekarang di dalam berbagai event penyebaran Islam serta khusus dalam pembelajaran dan pendidikan umat secara formal, non formal dan informal, namun kritik Gusril (2010) informasinya tidak lengkap diterima generasi umat sekarang, sehingga menyulitkan kita melihat menentukan bagaimana persisnya konseling masa dahulu itu dilakukan.

Materi konseling pada masa Nabi dan ulama klasik dahulu itu tetap saja menjawab dan memecahkan masalah-masalah individu atau kelompok/ umat yang timbul dalam kondisi, iklim budaya dan kebutuhan mereka dahulu, mulai dari pembinaan dan pembelajaran tauhid, ibadat, mu’amalat sampai kepada seluruh aspek kehidupan umat (akidah/ ideology, politik, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, sumber daya penduduk, wilayah dan sumber daya alam).

Khusus pada masa ulama sebagai pewaris Nabi, sejak periode klasik dahulu, mereka juga melakukan praktek konseling kepada umatnya. Konseling itu dilakukan dengan cara langsung (directive) dengan teknik dialog dan ada juga cara tidak langsung (nondirective). Di sisi lain ada yang lansung berdasarkan permintaan umat (klien/ konseli), yang prakteknya jema’ah datang sebagai konseli, kepada ulama sebagai konselor, untuk meminta bantuan memecahkan masalah mereka. Memang ketika itu masyarakat amat tergantung dengan ulama, ketika tidak ada tempat bertanya selain ulama, tidak seperti kita sekarang banyak tempat bertanya yakni buku-buku, media informasi lainnya yang paling canggih dan siap jawab dan saji adalah dunia internet dengan berbagai situsnya. Fenomena ketergantungan umat kepada ulama itu pula yang membuat ulama menjadi berwibwa dan punya charisma.

Selain praktek konseling dahulu itu atas permintaan jemaah sebagai konseli yang mendatangi ulama sebagai konselor, juga ada praktek konseling non profesi yang tidak berdasarkan permintaan klien/konseli/ jemaah. Ulama sendiri datang menjalankan dakwah yang sarat dengan nilai konseling. Dalam arti lain ada praktek pemberian konseling ulama itu tanpa meminta persetujuan klien dan ada pula dengan cara meminta persetujuan klien, namun yang pasti, teknik dialog dengan klien dalam konseling ulama tetap dan menjadi tradisi dakwah menyusul metode cermah.

Pemberian konseling dengan cara berdialog langsung dengan klien/ konseli/ jema’ah. Dapat dilihat dalam praktek konseling yang dicontohkan Ibrahim a.s., ketika ia (sebagai ayah) hendak mengorbankan anaknya Ismail, yakni ia (sebagai konselor) meminta persetujuan anaknya (sebagai konseli/ klien) untuk disembelih menjadi korban. Di lain pihak konseling juga pernah dilakukannya tanpa meminta persetujuan klien/ konseli, yakni Ibrahim berangkat dari kegelisahan dirinya mencari Tuhan dan terus penghancuran berhala yang dipertuhan ketika itu kemudian berdialog dengan pemilik berhala, dialog baru dilakukan setelah melakukan tindakan melenyapkan sesembahan mereka.

Nabi Muhammad saw dalam melakukan konseling umatnya pernah tanpa meminta persetujuan klien dan juga tanpa meminta persetujuan klien. Dari sumber hadits cukup banyak terdapat cara-cara memberikan konseling yang ditunjukkan Nabis SAW. Dalam pendidikan keluarga misalnya, di antaranya terdapat sumber Imam Muslim (Shahîh Muslim, Hadits 4032, dalam CD Hadits al-Kutub al-Tis’ah, lihat pula al-Nawawiy, 2004:362) dari cerita Abu Bakr Ibn Abi Syaibah, dari cerita Sufyan Ibn ‘Uyainah, dari ‘Amr, dari Abu al-Abbas, dari Abdullah ibn Amr ra. mengatakan:

قالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ قُلْتُ إِنِّي أَفْعَلُ ذَلِكَ قَالَ فَإِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ هَجَمَتْ عَيْنَاكَ وَنَفِهَتْ نَفْسُكَ لِعَيْنِكَ حَقٌّ وَلِنَفْسِكَ حَقٌّ وَلِأَهْلِكَ حَقٌّ قُمْ وَنَمْ وَصُمْ وَأَفْطِرْ[2]

Artinya:        Rasulullah SAW bertanya kepadaku, “belumkah aku kabar bahwa engaku shalat di malam hari dan berpuasa di siang hari?” Aku menjawab: “Ya, memang saya melakukannya”. Beliau bersabda: “jika yang demikian kamu lakukan, akan cekung matamu dan akan lelah badanmu, matamu mempunyai hak, badanmu mempunyai hak, keluargamu mempunyai hak. Oleh karena itu, shalatlah (di malam hari) dan tidurlah, berpuasalah (di siang hari), dan jangan lupa berbuka (di hari yang lain)” (HR. Muslim).

Dengan cara dialogis dimulai dengan menanyakan cara ibadah klien, lalu Nabi SAW memberikan konseling secara langsung klien sahabatnya itu. Isi konselingnya mendidik kepala keluarga agar adil memberikan hak keluarganya, terlihat dari kalimat Rasulullah li ahlik haqqu (keluargamu mempunyai hak). Di sisi lain konseling Nabi SAW ini juga merupakan empowering dalam bentuk penyadaran, bahwa anggota keluarga harus menjaga kesehatan. Boleh beribadah tetapi jangan dipaksakan sampai menyiksa badan. Karena kesehatan badan anggota keluarga (ayah ibu/ suami isteri) ada hak keluarga. Pelayanan konseling kepada umat misalnya di masjid, Nabi SAW, memberikannya dalam proses dialog menjawab pertanyaan yang diajukan jema’ah. Sambil menjawab pertanyaan Nabi SAW memberikan pelayanan konseling kepada mereka ( Al-Aluri,1979:154).

Ulama klasik dahulu misalnya pengalaman Syeikh Abdurrahman Batuhampar, 50 Kota (Edwar, ed., 1981) memberikan konseling dengan cara berdialog langsung dan sangat persuasive mengajari seorang penyabung ayam “membaca basmalah untuk meraih kemenangan, tanpa mempersoalkan terlebih dahulu boleh tidaknya menyabung ayam itu” dan kemudian dengan sikap lembut dan ungkapan yang menarik penyabung ayam sadar dan meninggalkan pekerjaan buruknya itu. Di sisi lain juga ada pengalaman ulama klasik yang lain memberikan konseling secara tidak langsung yakni berangkat dari kegelisahannya terhadap akidah umat, untuk kasus ini Azyumardi Azra (2010) menyebut ulama paderi, mereka menargetkan menghancurkan surau ninik mamak Minangkabau yang diyakininya sebagai sarang TBC (takhayul, bid’ah dan churafat) yang pada gilirannya membidani perang paderi dan diboncengi Belanda.

Dari pengalaman Nabi Allah dan ulama klasik tadi dalam memberikan konseling, dirasakan bahwa konseling[3] diberikan kepada muslim dan non muslim dan atau muslim ta’at dan muslim tidak taat. Pelayana Dalam perinsip-perinsip pendidikan Islam (al-Hazimiy, 2000:19) mendidik non muslim dapat dilakukan hanya dalam bentuk bimbingan (التوجيه) dan konseling (النصح).

Mengeksplisitkan pengalaman para Nabi dan ulama klasik tadi dapat diteorikan bahwa konseling diberikan dapat dilakukan dengan teknik berdialog langsung (directive) dan tidak langsung (nondirective) dalam proses atas persetujuan klien dan tanpa persetujuan dan atau berdasarkan pemintaan dan tanpa permintaan klien (umat). Bahkan lebih spasifik lagi Prof. Dr. Hayati Nizar (2010) menyebutkan konseling Islam juga dapat dilakukan kepada diri sendiri dalam proses monolong di samping konseling dengan cara dialog dengan klien, ini sekaligus membedakan teori konseling Barat dan Islam. Artinya konseling Barat hubungannya hanya dengan klien saja, tetapi konseling Islam di samping dengan klien juga erat hubungannya dengan konseling diri sendiri keluar dari problem/ kegelisahan diri sendiri.

Para khatib pun dalam khotbah di  samping meberi wasiat (tausiyah/ konseling) kepada jema’ah juga kepada dirinya: ushikum wa iyyaaya bi taqwallah (ku wasiatkan kepadamu dan kepada diriku, hendaklah bertaqwa). Dari fenomena ini adalah pantas lembaga/ badan-badan dakwah penting memasukkan konseling Islam sebagai satu aktivitas dalam agenda program dan aksi/ tindakan dakwah.

Jadi konsling bukan klaim pendidikan saja, tetapi juga klaim dakwah.  Pendidikan menanamkan nilai, dakwah menyampaikan/ mensosialisasikan/ mengundang orang dengan penuh hikmah, pengajaran yang menarik hati, artinya dakwah bukan hanya sekedar menyampaikan pengajaran tetapi sudah inheren pendidikan.

Dalam praktek konseling Islam menurut Prof Hayati (2010) berangkat dari problem umat. Artinya konselor mengetahui kondisi lingkungan umat dan atau kegelisahan diri sendiri, juga diketahui iklim budaya dan sikap mental umat. Artinya jantung konseling itu adalah mulai dari melihat masalah sampai menyelesaikannya.  Teknik konseling ada dengan dialog langsung (directive) atau tidak langsung (nondirective) atau eclective counseling (kombinasi directive dan nondirective). Materi/ isi konseling diberikan praktis dapat menyelesaikan permasalahan umat.

Makalah ini justru melihat praktek konseling ulama klasik pada pengalaman Janan Thaib (Janan bin al-Hajj Muhammad Thaib bin al-Hajj Muhammad Ali Minangkabau seorang ulama besar asal Bukittinggi termuat dalam bukunya al-Muqamma’at al-Dhikham fi l-Raddi ‘ala Man Ankara ‘Ilma l-Kalam (المقمعة الضخام فى الرد على من أنكر علم الكلام), ditulisnya di Kairo (Mesir), selesai hari Jum’at 16 Desember 1921 (17 Rabi’u l-tsaniy 1340 H) dan diterbitkan al-Taufiq al-Adabiyah, Kairo 1921.

  1. II.          PERMASALAHAN

Ada beberapa masalah pokok yang dibahas dalam makalah ini dan dirumuskan dalam beberapa pertanyaan inti sbb.:  

  1. Bagaimana proses konseling ulama klasik Janan Thaib, bagaimana problem umat ketika itu, bagaimana kondisi lingkungan umat dan bagaimana iklim budaya dan sikap mental umat ketika itu?
  2. Bagaimana isi konseling Janan Thaib?
  3. Bagaimana teknik dialog dalam konseling Janan Thaib dan bagaimana bentuk advis yang disampaikan dalam penyelesaian masalah umat?

Untuk menjawab tiga masalah pokok makalah ini diperlukan kerangka pikir yang jelas dan terarah didukung konsep-konsep konseling. Kerangka pikir itu dapat irumuskan dalam skema sbb.:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. III.       PEMBAHASAN

Dalam bagian ini menyajikan temuan yang merupakan jawaban dari masalah-masalah yang ditawarkan. Temuan yang menjawab tiga masalah pokok makalah ini sejalan dengan kerangka pikir makalah ini didukung konsep-konsep konseling Islam.

  1. 1.      Proses Konseling Ulama Klasik Janan Thaib, Problem Umat, Kondisi Lingkungan Umat dan Iklim Budaya dan Sikap Mental Umat

a.   Ulama Klasik Janan Thaib

Ulama yang ingin dianalisis konselingnya kepada umat ialah Janan bin Muhammad Thaib Minangkabau (Janan Thaib). Ia seorang ulama klasik asal Bukittinggi yang berpaham modernis. Ia alumnus University Al-Azhar seangkatan dengan Mukhtar Luthfi, juga Iljas Ja’cub seorang ulama pahlawan nasional, wartawan dan politisi papan atas di Indonesia asal Bayang Pesisir Selatan yang pernah menjadi ketua DPRGR Sumatera Barat.

Janan Thaib[4] bersama Iljas Ja’cub pernah (12 Pebruari 1931) mendirikan pendidikan tinggi Islam di Alang Laweh Padang dalam bentuk college Islam untuk diploma A dan diploma B, bernama Al-Kulliyat Al-Islamiyah. Kedua inteletual ulama jebolan Timur Tengah ini langsung memimpin pendidikan tinggi ini dengan struktur: Janan Thaib dan Iljas Ja’cub (sebagai pimpinan utama) dan Syamsuddin Rasyid (onder director). Mahasiswa awal diterima lulusan Sumatra Thawalib, Diniyah School, Tarbiyah Islamiyah, AMS (Algemeene Middelbare School), Schakel School dan lulusan sekolah tingkat menengah lainnya.

Janan Thaib dengan dua rekannya Mukhtar Luthfi dan Ilyas Ya’kub tidak mengenal kompromi dengan komponen yang punya watak imperialisme dan kolonialisme. Dalam PERMI yang didirikan Iljas Ja’cub, ia bisa kompromi hanya dengan Pertindonya Soekarno. Bentuk kompromi Iljas Ja’cub dan teman-temannya dalam bentuk koalisi memperkuat perjuangan kebangsaan, yakni di mana telah ada berdiri cabang Pertindo maka di sana tidak lagi perlu ada cabang PERMI dan sebaliknya. Karena dianggap membahayakan pemerintahan, maka berdasarkan vergarder verbod Belanda mengeluarkan kebijakan exorbita terechten yang menyatakan PERMI terlarang dan diikutitindakan penangkapan terhadap tokoh-tokohnya. Haji Ilyas Ya’kub bersama dua temannya Mukhtar Luthfi dan Janan Thaib ditangkap dan dipenjarakan. Setelah 9 bulan di penjara Muaro Padang, ia diasingkan selama 10 tahun (1934-1944) ke Bouven Digul Irian Jaya bersama para pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia lainnya. Selama di Digul Haji Ilyas Ya’kub didampingi isteri Tinur sering sakit-sakitan. Masa awal penjajahan Jepang di Indonesia pun, para tahanan Digul semakin memprihatinkan, mereka dipindahkan lagi ke daerah pedalaman Irian Jaya di Kali Bina Wantaka kemudian diasingkan pula ke Australia[5]. Ia senantiasa dibujuk  van der Plas  dan van Mook (Belanda), namun semangat nasionalis dan Islamnya tidak pernah pudar memotivasi pembangkangannya dalam menentang penjajah dan menggerakkan terwujudnya kemerdekaan Indonesia.

Dalam sejarah intelektual Sumatera Barat Janan Thaib banyak mewariskan kekayaan intelektual di antaranya buku-buku baik yang ditulisnya selama di Kairo, maupun di tanah air setelah ia kembali dari Timur Tengah. Di antara warisan karya intelektualnya adalah buku al-Muqamma’at al-Dhakham fi l-Raddi ‘ala Man Ankara ‘Ilma l-Kalam (المقمعة الضخام فى الرد على من أنكر علم الكلام – Tekanan Kuat dalam Penolakan terhadap Orang Ingkar Ilmu Kalam) yang penulisannya diselesaikannya di Kairo (Mesir), hari Jum’at 16 Desember 1921 (17 Rabi’u l-tsaniy 1340 H). Dapat dipahami bukunya ini sudah termasuk naskah klasih berusia 89 tahun dicetak awal mula oleh Penerbit al-Taufiq al-Adabiyah, Kairo.

b.   Problem Umat dan Lingkungannya, Iklim Budaya dan Sikap Mental Umat

Buku al-Muqamma’at al-Dhikham fi l-Raddi ‘ala Man Ankara ‘Ilma l-Kalam (المقمعة الضخام فى الرد على من أنكر علم الكلام) Janan Thaib ini sarat dengan esensi konseling dalam makna pemberian nasehat. Karena buku polemis ini sebagai wacana jenis teks klasik yang sudah dicetak berulang-ulang, yang penerbitannya dilatarbelakangi hasrat pemberian sebuah jawaban terhadap fenomena dan problem umat ketika itu yang heboh soal larang mengaji sifat-20 berpangkal dari buku polemis H.Muhammad Karim Nagari Sumpur (Minangkabau).

Di lingkungan umat tahun 1921 pecah lagi khabar keributan permasalahan khilafiyah di kalangan umat Islam di Minangkabau soal larangan mengaji sifat-20 yang ketika itu disebut bagian kajian dari aqidah-50. Keributan khilafiyah itu berpangkal dari buku polemis berbahasa Melayu “Kitab Nazam” H.Muhammad Karim di Surau Bandar, Nagari Sumpur (Minangkabau). Sebenarnya sejak dasawarsa ke-2 abad ke-20 di lingkungan umat di Minangkabau dan melibatkan wilayah lain di mana ulama yang terlibat berdebat itu tinggal, sudah hampir  dapat diselesaikan persolah khilafiyah dalam 40 masalah dalam sebuah rapat besar 1000 ulama di Padang, 19 Juli 1919 dipimpin oleh seorang orientalis Belanda BJO Schrieke, di mana ulama tua (tradisional) dipimpin oleh Syeikh Chatib Ali (aliran radikal) dan Syeikh Muhammad Dalil (beraliran moderat) serta di pihak ulama kaum muda (modernis) dipimpin oleh Syeikh Dr. Haji Abdul Karim Amrullah (aliran radikal) dan Dr. Abdullah Ahmad (aliran moderat). Sungguhpun demikian masih dirasakan iklim budaya dan sikap mental umat masih suka berdebat a lot soal khilafiyah, denyutnya masih keras terasa di beberapa penjuru berbasis pada surau-surau ulama tua dan ulama kaum muda masih. Artinya umat masih dalam iklim budaya “ketidakrukunan intern umat beragama”, masih dirasakan ketegangan antar paham, baik di kalangan ulama kaum tarekat, ulama tua moderat dan radikal, ulama kaum muda yang modrat dan radikal.

Janan Thaib melihat dan menilai Kitab Nazam Muhammad Karim tadi berpotensi memicu konflik, dan sajiannya dinilai sebagai amat bernai dan radikal, bahkan dinilai menyebarkan fitnah dan syubhat, karena buku mencap pengajian ilmu kalam dan mengajarkannya sebagai perbuatan bid’ah.

Buku Muhammad Karim ini sampai di tangan Janan Thaib ketika masih studi di Kairo. Ulama modernis ini, memberikan respon terhadap buku Muhammad Karim ulama modernis yang dipandang radikal ini yang secara keras menentang pengajian sifat 20 khususnya dan pengajian serta pengajaran ilmu kalam umumnya. Janan Thaib tidak mekai teknik dialog langsung (directive) memberikan konseling (nasehat), tetapi mengambil teknik konseling “dialog” dan “nondirective” yang pelaksanaannya ia menulis sebuah risalah dalam bentuk buku khusus menanggapi “Kitab Nazam” Muhammad Karim itu. Sajian buku Janan Thaib dalam bentuk tulisan dialog bahkan seperti soal jawab: “orang bertanya ia menjawab”. Topiknya: al-Muqamma’at al-Dhakham fi l-Raddi ‘ala Man Ankara ‘Ilma l-Kalam (المقمعة الضخام فى الرد على من أنكر علم الكلام – Tekanan Kuat dalam Penolakan terhadap Orang Ingkar Ilmu Kalam). Buku ini ditashih oleh ulama Makah dan diizinkan terbit oleh Qadhi l-Qudha (para hakim) dan Majelis al-Ma’arif (Pengetahuan) Pemerintahan Kerajaan al-Arab al-Hasyimiyah di Makah, tahun 1921.

  1. 2.      Isi konseling Janan Thaib

Janan Thaib sebagai ulama klasik Minangkabau memiliki kepiawaian dalam memberi nasehat/ tausiyah (konseling). Kehadirannya sesuai dengan situasi lingkungan, iklim budaya, sikap mental dan problem umat, justeru amat dibutuhkan dalam memberi nasehat ulama. Ulama boleh dikatakan satu-satunya tempat meminta pengajaran[6], dan ulama mampu pula memberikan konseling dalam wujud pengajaran yang indah dan kaya dengan hikmah dan mau’izhah serta bimbingan (irsyadah) ke jalan yang benar.

Dalam perspektif konseling Islam, ulama seperti Janan Thaib ini itu amat piawai sebagai konselor, dapat memberi pelayanan konsultasi individu dan umat dalam menyelesaikan masalahnya dan membantu memecahkan problem/ masalah-masalah dengan cara memahami dirinya, memahami kemampuan serta bakat dan minat, bahkan mengerti cara menerima takdir serta pandai mengerjakan amar ma’ruf dan meninggalkan nahi mungkar.

Konseling yang diberikan Janan Thaib dalam bukunya al-Muqamma’at al-Dhakham fi l-Raddi ‘ala Man Ankara ‘Ilma l-Kalam (المقمعة الضخام فى الرد على من أنكر علم الكلام – Tekanan Kuat dalam Penolakan terhadap Orang Ingkar Ilmu Kalam), secara esensial menjelaskan permasalahan pemahaman dan kesalahpahaman Muhammad Karim dalam Kitab Nazam mengenai ilmu kalam umumnya dan sifat 20 khususnya. Sebenarnya dalam sejarah warisan intelektual ulama Minangkabau buku seperti ini banyak sekali, termasuk Buku Syeikh Muhammad Shalih bin Abdullah Minangkabawiy Kasy al-Asrar, disebutkan sebagai terjemahan (14 Jumad al-Akhir 1344), di mana di dalam Kitab Kasyf al-Asrar ini sarat dengan konseling menjawab beberapa masalah mengenai tasauf, tauhid dan fiqhi. Dalam sejarah intelektual buku kasyf Al-Asrar sejak dulu juga mendapat sanggahan mengenai pemahaman wahdatul-wujud, nur muhammad, ilmu tasawwuf, kesyirikan tasawwuf, zuhud/ mengabaikan dunia dsb..

Janan Thaib dalam bukunya al-Muqamma’at al-Dhakham fi l-Raddi ‘ala Man Ankara ‘Ilma l-Kalam (المقمعة الضخام فى الرد على من أنكر علم الكلام – Tekanan Kuat dalam Penolakan terhadap Orang Ingkar Ilmu Kalam) ini memberikan konseling (nasehat, mau’izhah) bahwa mempelajari dan mengajarkan ilmu kalam dan sifat 20 tidak terlepas dari ilmu syari’ah, tidak bid’ah mempelajari dan mengajarkannya seperti yang disebut Muhammad Karim. Tujuan konseling Janan Thaib, untuk meluruskan paham umat agar tidak terpedaya oleh buku itu terjebak dalam kondisi saling meng(k)afirkan ulama yang mempelajari dan mengajarkannya. Berikut ini dilihat berberapa dialog nondirective Janan Thaib dalam memberikan pelayanan konseling dalam bukunya tadi sbb.:

a.   Masalah Sifat 20 dalam Syari’at, Qur’an – Hadis dan Qiyas – Ijma’    

      – Muhammad Karim, berkata:

Seperti mengaji 20 sifat              #   serta dikata wajib syari’at

            Di Hadits Qur’an tidak dilihat   #  di Qiyas Ijma’ tidak didapat   

+ Janan Thaib menjawab:

“Ya Allah perlihatkanlah kepada kami yang benar itu benar dan beri kami kekuatan untuk melaksanakannya. Tunjukanlah kepada kami yang bathil itu bathil dan beri kami kekuatan untuk menjauhinya. …Fakir (Janan Thaib) sebutkan lebih dahulu makna sifat 20 dan asalnya,  karena tidak terupa mahukum dengan wajib dan lainnya melainkan pada kemudian mengetahui akan yang dihukum itu sebab mahukum atas yang majhul (yang tidak jelas) tidak ada faedahnya, lagi pula karena menurut kaedah yang telah masyhur yaitu (menghukum sesuatu setelah jelas gambaran persoalannya)….Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya sifat 20 itu sifat 50 ilmu kalam, ilmu tauhid, ilmu ushuluddin dan ilmu akidah, semuanya itu (lah) maknanya, maksudnya satu, hanyalah lafaz saja yang bersalahan (berbeda)…. Ialah ilmu yang membahas zat Allah, sifat-sifat-Nya dan keadaan yang mungkin di dunia dan di akhirat sesuai dengan hukum Islam….”.

Janan Thaib menetapkan hukum mempelajari sifat 20 adalah wajid dengan mengemukankan berbagai alasan bersumber kitab standar.

b.   Tuduhan Sifat 20 Bida’ah

– Muhammad Karim:

Mahukumkan wajib terang berni        #          manukuak manambah syari’at Nabi

            Jadi bid’ah kita masuki                       #          masuklah kita ka buatan kaji

         ­+ Janan Thaib menjawab:

Betul sekali berani mahukumkan wajib, karena Allah SWT dan RasulNya telah menyuruh akan umatnya dengan suruh wajib sebab itu terang saja berani…dan beramal sepanjang yang disuruhkan…dan tak melarang manusia beramal dengan yang disuruhkan…

c.   Dajjal : Dajir Qur’an     

      –     Muhammad Karim berkata:

Jadi sekarang engkau seroman           #          dengannya orang dajjal Qur’an

            Maknanya saja tolan dengarkan         #          di setengah kafir di setengah iman      

+ Janan Thaib menjawab:

“Ini kalam tiada bagi makna, kalam apa ini, loghat apa ini dan apa maksudnya. …Dajjal (pembohong) Qur’an tidak ada maknanya …. (mungkin) karena orang Dajir Qur’an tidak mendengar makna hanyalah mendengar lafaz….tidak ada faedahnya”. Janan Thaib menasehati berkata yang punya makna dan faedah.

3.   Teknik Dialog dalam Pelayanan Konseling Janan Thaib

      Menyampaikan Advis Menyelesaikan Masalah Umat

 

Tadi disebutkan bahwa teknik konseling itu ada langsung (directive), tidak langsung (nondirective) dan ada gabungan keduanya disebut eclective. Djumhur – Moh.  Surya, t.th:110) menjelaskan:.

  1. Directive counseling yaitu teknik konseling dimana yang paling berperanan ialah konselor-konselor berusaha mengarahkan klien sesuai dengan masalahnya.
  2. Non- directive counseling yaitu teknik ini semuanya berpusat kepada klien. Konselor hanya menampung pembicaraan, yang berperanan ialah klien. Klien bebas sedangkan konselor menampung dan mengarahkan
  3. eclective counseling yaitu campuran dari teknik directive counseling dan non-directive counseling.

Janan Thaib dalam bukunya al-Muqamma’at al-Dhakham fi l-Raddi ‘ala Man Ankara ‘Ilma l-Kalam (المقمعة الضخام فى الرد على من أنكر علم الكلام – Tekanan Kuat dalam Penolakan terhadap Orang Ingkar Ilmu Kalam) memberikan pelayanan konseling dalam teknik dialog nondirectivenya dan teknik mujadalah billati hiya ahsan (menolak dengan cara baik-baik) dalam bukunya itu.

Di akhir dialog, Janan Thaib memberi ketegasan, menetapkan pendapat disertai alasan yang akurat, memberikan pelajaran yang cukup banyak dengan mengemukakan alasan bersumber kitab tafsir mahalli, tafsir khazin, tafsir tabariy, tafsir baidhawiy, tafsir abi al-syu’ud, tafsir libab al-ta’wil, tafisr ruh al-bayan, tafsir kassaf, al-mishbah al-munir, taj al-‘urus syarih qamus, manawiy kitab al-taufiq, pendapat ulama ushul al-fiqh dll.

Dalam permasalahan menjelaskan masalah khilafiyah seperti menjawab pendapat mengharamkan mengaji dan mengajarkan sifat 20 khususnya dan ilmu kalam umumnya itu ditegaskan Janan Thaib sebagai pendapat yang dhaif (lemah) bahkan paham yang fasad (kontra produktif) dan batal, karena membawa manusia kepada ingkar Qur’an dan Hadist. Janan Thaib menyadari kelemahan pada manusia di samping memiliki kelebihan, ia selalu merendah dengan menyebut dirinya faqir (lemah) dan taqshir (serba kurang). Kemudian dipartrinya dengan syair, untuk menghasut menambah ilmu.

أيها المبتدئ ليطلب علما             كل علم عبد لعلم الكلام

(ayo pra pemula hendaklah cari ilmu       setiap ilmu diabdikan kepada ilmu kalam)

Namun di akhir perbincangan Janan Thaib memberikan “pendinginan suasana” dengan mengnasehatkan bahwa perdebatan dalam masalaha agama adalah rahmat (kasih sayang), meskipun kadang disadarkannya ada berdampak tidak baik. Ia mengutip syair:

ليس كل خلاف جاء معتيرا           إلا خلاف له حظ من النظر

(tak semua khilafiyah jadi buah bibir  kecuali khilafiyah yang menarik keuntung dari pandangan yang diberikan).

IV. KESIMPULAN

Dari paparan tadi, ulama klasik Minangkabau Janan Thaib tamatan universitas al-Azhar Kairo dan Digulis yang belum diproklamirkan sebagai pahlawan perjuangan kemerdekaan RI seperti rekannya Iljas Ja’cub, ditemukan sebagai ulama konselor yang piawai memberikan pelayanan konseling dalam makna nasehat dan taushiyah.

Ia memberikan pelayanan konseling terhadap umat tidak saja menggunakan teknik dialog directive, nondirective tertapi juga campuran keduanya dalam bentuk eclective counseling. Konselingnya yang sarat dengan nasehat dan pengajaran, tidak saja dalam dialog langsung juga dalam discursus warisan intelektual dalam bentuk buku-buku.

Bukunya al-Muqamma’at al-Dhakham fi l-Raddi ‘ala Man Ankara ‘Ilma l-Kalam (المقمعة الضخام فى الرد على من أنكر علم الكلام – Tekanan Kuat dalam Penolakan terhadap Orang Ingkar Ilmu Kalam) sarat dengan konseling (nasehat dan taushiyah) kepada umat disajikan dalam bentuk nondirective menjawab persoalan Kitab Nazam ulama modernis Muhammad Karim.

Inti konselingnya menjawab masalah khilafiyah “mempelajari dan mengajarkan ilmu kalam dan sifat 20” dan menentramkan umat yang berpotensi terpecah belah tahun 1921. Di akhir dialog konselingnya, Janan Thaib memberi ketegasan, dan menetapkan pendapatnya disertai alasan yang akurat.

Referensi

Achmad Mubarak, Al-Irsyâd al-Nafsî: Konseling Agama Teori dan Kasus, Jakarta: Bina Rena Pariwara, 2002.

Al-Hazimiy, Khalid bin Hamid, Prof. Madya Dr., Dasar – Dasar Pendidikan Islam, Cet. I. Al-Madinat al-Munawwarah: Dar ‘Alam al-Kutub, 2000

Edwar, ed., Riwayat Perjuangan 20 Ulama Sumatera Barat. Padang: ICSB, 1981.

Evi Yulianti, Perlunya Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah. Online: http://psikonseling.blogspot.com/ , 2009.

Gusril, Kenedi, Dr., Konseling Pendidikan Islam, Catatan YY. Padang: PPs.IAIN-IB, 2010

Hayati, Nizar, Prof. Dr., Han-out Kuliah Pengantar, Konseling Pendidikan Islam. Padang: PPs. IAIN IB, 2010

Imam Abi al-Barakat Abdullah bin Ahmad (Hafizh al-Dien al-Nasifiy), Kasy Al-Asrar Syarh al-Mushannif  ‘ala l-Manar. Libanon: dar al-kutub al-‘amaliyah, tt.

Janan bin Muhammad Thaib Minangkabau, al-Muqamma’at al-Dhakham fi l-Raddi ‘ala Man Ankara ‘Ilma l-Kalam (المقمعة الضخام فى الرد على من أنكر علم الكلام ). Al-Qahirah: al-Taufiq al-Adabiyah, 1921.

M. Husnil Wardi, Problematika Da’wah (Konseling terhadap Fanatisme dan Prilaku Menyimpang). Online:http://www.jurnalstidnatsir.co.cc/ , 2009

Scrieke, B.J.O., terj. Pergolakan Agama di Sumatera Barat, Sebuah Sumbangan Bibliografi. Jakarta: Bhratara, 1973

Syeikh Muhammad Shalih bin Abdullah Minangkabawiy, Kasy al-Asrar, Terj. Cet.XXXII. Singapura: Al-Ahmadiyah Brabat Limited, 1402.

Yulizal, Yunus, Pendidikan Kemasyarakatan Menurut Hadits. Padang: PPs.IAIN Imam Bonjol, 2009.


[1]Yulizal Yunus, Dosen Fakultas Ilmu Budaya IAIN Imam Bonjol Padang. Kertas Kerja dibentang pada Seminar Serantau Kitab Turath, Pembinaan serta Perkembangan Tradisi Ilmu di Alam Melayu dengan thema: Pemeliharaan Kitab Turath (Naskah Klasik-Manuskrip) sebagai Nilai Khazanah Umat Islam. Dewan Utama Kolej Universiti Perguruan Ugama (KUPU) Seri Begawan – Brunei, 27-28 Oktober 2010.

[2].Muslim, Shahîh Muslim, Hadits Nomor 4032, dikutip melalui CD Hadits al-Kutub al-Tis’ah, Lihat pula al-Nawawiy, loc.cit., Jilid II, h. 362

[3]Konseling berasal dari kata (ing.) counseilling, counseilling advising, juga dari kata counseillen to counsel. Counseling atau counseling (Webster!s Third New International Dictionary, 1966:518). Padanannya dengan kata al-nushuh/ nasehat (Dictionary of Eduction, 1981:95, Oxford English-Arab Dictionary, 1981:278& The Modern Dictionary: Englihs-Arabic, 1978:150) dan irshad/ bimbingan (Dictionary of Education, 1981:95, Mu1jam Ilm al-nafs,1985:30 & Arabic-English Dictionary of the Modern Literary Language, 1973:262).   Prof. Hayati Nizar menyebut konseling untuk idom lama di Indonesia “bimbingan penyuluhan” semakna dengan nasehat atau taushiyah (Konseling Islam, 2010), sama maknanya perbincangan yang rapi (malay- Kamus Dewan, 1993:542). Kata Hayati (2010), jantung konseling itu mulai dari melihat masalah dan menyelesaikannya dengan teknik dialog secara directive, nondirective dan eclective counseling. Kata Hayati juga konseling Islam berbeda dengan Barat. Barat pelayanan konseling hanya untuk klien, tetapi konseling Islam juga termasuk taushiyah untuk diri sendiri. Konseling menurut Barat adalah proses pelayanan konselor membantu klien dalam menghadapi, memahami dan menerima informasi tentang dirinya dan hubungannya dengan orang lain. Konselor dapat membuat keputusan yang bermakna dalam menghadapi berbagai pilihan hidup (Cottle, W.C.& Downie, N.M. 1970:1). Konseling juga dapat diartikan sebuah proses interaksi yang dapat mempermudah memahami diri, lingkungan dan melahirkan perubahan-perubahan pada tingkah laku dan mengembangkan informasi mengenai tingkah laku ke  depan  (lihat Stone, S.C. & Shertzer.B/1972:1). Konseling dalam makna mau’izhah (pengajaran yang indah), lalu mau’izhah katan al-Hazimiy (2000: 396) itu tidak dapat dipisahkan dengan hikmah, karena penasehat (konselor) itu bila tidak bijaksana (tak ada hikmah) bisa terjadi hal yang tidak proporsional (penempatan sesuatu tidak pada tempatnya), bisa salah dalam menentukan waktu yang pas/ cocok, tidak pas dalam memilih lafaz (kata) yang tidak sesuai dengan situasi mad’u (yang dinasehati) dan keliru dalam memilih tempat yang tidak sesuai dengan kondisi.

[4]Dari sumber Azyumardi dalam bukunya Renaisance di Asia Tenggara (2004), tokoh ini pendiri madrasah al-Indonesiy di Makkah  bersamaan Syeikh Muhd. Yasin al-Fadaniy mendirikan madrasah dar al-“ulum al-diniyah Makkah.

[5]Kesulitan dan kerumitan yang dialami kehidupan Ilyas Ya,kub dalam pengasingan mengundang keprihatinan dalam bersikap permisif terhadap berbagai tekanan. Apalagi dalam pengasingan ke Australia yang belum dalam pengaruh  Islam secara luas seperti di Malaysia, Brunei dan Singapura. Australia tidak seperti dalam era AFIC (Australian Federation of Islamic Council) sekarang  yang menjadi juru bicara penderitaan muslim di depan publik. Memang Islam telah datang ke tanah kangguru ini dibawa migrasi muslim Turki, Mesir dan negara Timteng lainnya pasca perang dunia I, tetapi pembelaan kepentingan Islam belum ada.

[6]Berbeda dengan situasi sekarang di abad globalisasi yang diisi kemajuan informasi, komunikasi dan teknologi multi media, kedudukan ulama bukan lagi satu-satunya tempat bertanya. Mereka dengan mudah beralih bertanya kepada buku yang tersedia cukup banyak dan maju apalagi referensi dunia maya, sakali klik mereka dihubungkan dengan berbagai referensi sesuai dengan materi yang ingin mereka akses.

Pos ini dipublikasikan di Sejarah Pendidikan Islam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s